Begini saran pakar obesitas bila berat badan stagnan

  • Whatsapp
banner 468x60

Jakarta (ANTARA) – Menurunkan berat badan selalu menjadi perjuangan dan ini mungkin sulit bagi sebagian mereka termasuk yang terlanjur mengalami obesitas. Lalu apa yang bisa dilakukan jika berat badan tak juga kunjung turun hingga mencapai normal?

Bacaan Lainnya

banner 300250

Tubuh manusia adalah mesin yang sangat efisien. Tubuh mengerahkan berbagai mekanisme saat merasa terancam. Oleh karena itu, saat seseorang mengurangi asupan kalori, tubuhnya merasakan penurunan berat badan itu, dan menganggapnya sebagai ancaman.

Baca juga: Robert Pattinson mengaku pernah diet kentang untuk detoksifikasi

Akibatnya, tubuh mengurangi laju metabolisme dan membakar lebih sedikit energi atau dengan kata lain, itu memperlambat laju penurunan berat badan, demikian seperti diungkap ScienceAlert.

Menurut penelitian, stagnansi penurunan berat badan terjadi antara tiga dan enam bulan dan biasanya berakhir dengan penambahan berat badan. Namun, ini tidak berarti bahwa seseorang menyerah begitu saja. Sebenarnya, ada beberapa cara untuk mengelola masalah stagnasi penurunan berat badan selama diet, menurut Ketua Charles Perkins Center Research Program di University of Sydney Nick Fuller seperti disiarkan Medical Daily beberapa waktu lalu.

Pertama, pikirkan kembali tujuan penurunan berat badan. Fuller mengatakan aspek terpenting dari penurunan berat badan adalah mengetahui definisi berat badan yang sehat.

Baca juga: Diet mediterania dikaitkan dengan risiko preeklampsia lebih rendah

Menurut dia, banyak orang menggunakan indeks massa tubuh (IMT) untuk menetapkan tujuan penurunan berat badan mereka, tetapi angka pada timbangan, dan skor yang dihasilkan saat seseorang memasukkan berat dan tinggi badan ke dalam kalkulator IMT, tidak masuk akal.

“Itu tidak menceritakan keseluruhan kisah tentang apa artinya menjadi berat badan yang sehat,” tutur dia.

Ini karena IMT tidak memperhitungkan persentase lemak tubuh dan distribusi lemak tubuh.

Olahraga teratur menyebabkan penambahan otot. Rasio otot-ke-lemak yang dihasilkan akan berdampak pada pengukuran berat badan, karena otot lebih berat daripada lemak tubuh. Juga, distribusi lemak dapat berubah karena rencana penurunan berat badan.

Olahraga dapat mentransfer jumlah lemak tidak sehat yang tersimpan di sekitar pinggang lebih dekat ke organ, yang bagus untuk mengurangi risiko penyakit.

“Berusahalah dengan lingkar pinggang sekitar 80 cm untuk wanita dan sekitar 90-94 cm untuk pria,” saran Fuller.

Baca juga: Diet sesuai DNA atau golongan darah, mana yang lebih baik?

Cara lainnya yakni, jangan melewatkan waktu makan. Puasa intermitten atau melewatkan sarapan dikatakan sebagai kebodohan besar. Jumlah makanan dan waktu makan memainkan peran penting.

“Studi penelitian terkontrol menunjukkan waktu sarapan yakni ketika tubuh Anda paling baik menggunakan kalori yang Anda masukkan – sebenarnya, ini membakar kalori dari makanan dua setengah kali lebih efisien di pagi hari dibandingkan dengan malam,” jelas Fuller.

Selanjutnya, tinjau asupan makanan yakni harus sepadan dengan berat badan, karena berat badan yang lebih sedikit berarti tubuh membutuhkan lebih sedikit bahan bakar untuk menjalani hari.

Secara umum, seseorang perlu mengonsumsi 10 persen lebih sedikit kalori saat menurunkan berat badan hingga 10 persen, hanya untuk mempertahankan berat badan baru.

“Tapi ini tidak berarti kekurangan atau kelaparan. Sebaliknya, Anda harus berfokus pada makanan padat nutrisi dan menjaga camilan,” demikian saran Fuller.

Baca juga: Rahasia diet Dwayne Johnson untuk jadi “Black Adam”

Baca juga: Bumbu umami sebagai alternatif garam guna cegah hipertensi

Baca juga: Sama-sama bikin kurus, apa bedanya bedah bariatrik dan sedot lemak?

Penerjemah: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2023

Sumber Antara

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *