Orangtua sebaiknya periksakan mata anak meski tanpa keluhan

  • Whatsapp
banner 468x60

Banyak penyakit mata yang bisa kita cegah

Bacaan Lainnya

banner 300250

Jakarta (ANTARA) – Orangtua sebaiknya memeriksakan mata anak-anak mereka ke dokter walau tidak ada keluhan apa pun, menurut dr. Zoraya A Feranthy, SpM dari Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia.

“Skrining rutin mata penting, tidak harus menunggu ada keluhan. Banyak penyakit mata yang bisa kita cegah,” kata dia dalam sebuah acara kesehatan di Jakarta, Rabu.

Zoraya mengatakan, bayi setelah lahir dapat langsung mendapatkan pemeriksaan pada matanya. Ini untuk mendeteksi berbagai penyakit bawaan seperti katarak dan glaukoma bawaan.

Baca juga: Pentingnya periksa kesehatan mata sejak dini

Pemeriksaan mata dini juga dapat mendeteksi miopi atau rabun jauh yang dialami anak-anak. Anak dengan kondisi rabun jauh seringkali memberikan gambaran dengan memicingkan matanya saat melihat objek jauh.

“Kalau memegang suatu objek misalnya gawai, dia suka dari dekat,” ujar Zoraya yang mendapatkan gelar dokter spesialis mata dari Universitas Padjadjaran¬†Bandung itu.

Miopi pada prinsipnya kondisi saat terjadi ketidaksesuaian antara panjang bola mata dengan kekuatan optiknya sehingga seseorang tidak bisa memfokuskan cahaya pada retina. Kondisi ini membutuhkan lensa minus untuk bisa menjatuhkan bayangan tepat di retina.

Baca juga: Cara efektif atasi mata minus pada anak

“Sehari-hari tidak tampak ada keluhan tidak ada salahnya skrining. Kita harus lebih hati-hati. Bisa jadi anak tidak memberikan gambaran sama sekali tetapi ternyata minusnya (sudah) tinggi,” kata dia.

Zoraya menuturkan kondisi mata minus dianggap sebagai gangguan refraksi tertinggi dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi pada tahun 2050, setengah populasi dunia akan mengalami mata minus.

Berbicara penyebab, menurut dia, jarangnya anak terpapar matahari akibat pandemi yang mengharuskan mereka di rumah sehingga terus menggunakan penglihatan jarak dekat, kurang vitamin D, dan faktor genetik merupakan di antaranya.

“Apakah faktor genetik mutlak? Tidak, bisa juga dipengaruhi nutrisi, kebiasaan, lingkungan dan lainnya,” demikian kata Zoraya.

Baca juga: 350 siswa di Jakarta Barat jalani pemeriksaan mata

 Baca juga: Dokter ingatkan orang tua waspadai kebutaan pada anak

Baca juga: Dokter: Sadari tahap perkembangan penglihatan untuk cegah ambliopia

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Sumber Antara

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *